SELAMAT DATANG, PARA HADIRIN.

LAKON HARI INI: HIKAYAT SURYA DAN REMBULAN


MENAMPILKAN:

SANG SURYA:
BASKARA AGNIBRATA

SANG REMBULAN:
CANDRA AGNIBRATA

HIKAYAT SURYA DAN REMBULAN

SEBUAH PERTUNJUKAN DALAM EMPAT BABAK.


01

BABAK
PERTAMA

Setiap keluarga pasti punya bangkai yang disimpan di dalam lemarinya, dan garis keturunan Agnibrata pun tak jauh berbeda.Keluarga Agnibrata terlihat seperti keluarga kaya pada umumnya, tetapi di balik semua itu, ada campur tangan makhluk tak kasat mata yang memberi mereka pundi-pundi uang untuk membangun citra dan harta mereka. Mereka memanggilnya Nyai Jenar. Semua anggota keluarga Agnibrata (terutama garis utama) mengenal namanya, tetapi hanya orang-orang terpilih saja yang pernah melihat wujud Nyai Jenar, lebih-lebih wujud aslinya.Perjanjian Agnibrata dengan Nyai Jenar telah berjalan selama lebih dari seratus tahun. Pendiri dinasti Agnibrata yang awalnya hanya seorang saudagar kelas menengah-bawah ingin menambah kekayaannya. Berbekal arahan dari orang pintar, ia membuat perjanjian seorang makhluk yang menamai dirinya sebagai Nyai Jenar.Perjanjian itu tak semata menguntungkan keluarga Agnibrata, Nyai Jenar juga meminta bayaran dari mereka berupa sesembahan hewan ternak dan juga hal lainnya. Bahkan, ada satu rumah kecil di belakang kediaman utama Agnibrata yang didedikasikan untuk melakukan ritual persembahan dan tempat singgah Nyai Jenar di dunia manusia.Tidak ada orang di luar lingkup keluarga Agnibrata yang tahu mengenai hal ini, dan selamanya akan seperti itu; sebab, jika ada satu saja jiwa di luar lingkaran mereka yang tahu tentang rahasia ini, maka nasib malang akan menimpa mereka.

02

BABAK
KEDUA

Kejadian nahas itu dimulai pada tahun 1937.Adanya kelalaian dari pihak Agnibrata dalam menjalankan sesi ritual persembahan. Setelah diselidiki, ternyata kelalaian ini merupakan hal yang disengaja oleh Lingga Agnibrata, yang merupakan kepala keluarga utama Agnibrata saat itu. Dirinya merasa bahwa tradisi ritual yang dilakukan keluarganya merupakan hal bodoh dan tidak perlu dilakukan lagi sebab keadaan mereka sudah stabil.Ternak yang seharusnya disembelih dan diserahkan dalam keadaan segar digantinya dengan ternak tiren yang sekilas terlihat seperti daging segar. Namun, Nyai Jenar bukanlah entitas yang mudah ditipu oleh trik kecil manusia. Hal ini tentu membangkitkan angkara murka dari Nyai Jenar.Turunlah kutukan untuk seluruh manusia yang darahnya dialiri darah Agnibrata, baik dari keluarga utama juga keluarga cabang:
"Suk yen ana anak kembar sing lair ing keluarga iki, bakale tak jupuk sukmane sing lair keri lan tak dadikno abdiku." (Kelak jika ada anak kembar yang lahir di keluarga ini, akan aku ambil jiwa bayi yang lahir paling terakhir dan kujadikan pelayanku.)
Awalnya Lingga tak terlalu pedulikan dan anggap itu cuma ancaman kosong, hingga setahun kemudian istrinya hamil anak kembar dan salah satu anaknya meninggal saat dilahirkan. Beberapa orang dari keluarga cabang juga mengalami hal yang sama. Hal ini membuat Lingga disidang oleh segenap Agnibrata dan kemudian dihukum dikurung di dalam rumah sesembahan sebelum akhirnya ia meninggal dua tahun kemudian karena bunuh diri.Kutukan itu masih terus menghantui garis keturunan Agnibrata ... hingga pada tahun 1997, kutukan itu tampaknya diangkat kembali oleh Nyai Jenar.Benarkah ... ?

03

BABAK
KETIGA

Tanggal 16 Mei 1997, sebuah kejadian menggemparkan seisi dinasti Agnibrata: ada anak kembar yang keduanya lahir dengan selamat. Anak dari Latu Agnibrata dan Rita Dwi Lestari yang bernama Baskara dan Candra itu lahir dengan sehat dan tanpa cacat apapun.Segenap insan Agnibrata langsung mengadakan syukuran tiga hari tiga malam dan memberi sesembahan melimpah kepada Nyai Jenar yang telah berbaik hati mencabut kembali kutukan yang sempat menghantui Agnibrata.Namun, ternyata semua tak sesederhana itu.Malam terakhir pesta syukuran kelahiran, Rita dihampiri oleh Nyai Jenar dalam mimpinya. Nyai Jenar berkata bahwa ia akan mencabut kutukan yang diberikannya pada keturunan Agnibrata, tetapi ia akan memberi "hadiah" kepada Candra sebagai peringatan terakhir untuk mereka agar tak lagi-lagi coba menipu Nyai Jenar.Rita tak bisa menolak, tak punya kuasa untuk menolak. Ia hanya bisa berharap bahwa "hadiah" yang dimaksud oleh Nyai Jenar tidak akan membahayakan hidup Candra dan juga Baskara.

04

BABAK
TERAKHIR

Ketika mereka bertumbuh, mulai terlihat perbedaan mencolok antara Baskara dan Candra.Baskara adalah bocah yang aktif dan ceria, sementara Candra seringkali diam dan ketakutan tanpa sebab. Selain itu, Candra juga seringkali jatuh sakit hingga berhari-hari.Ketika dibawa ke orang pintar yang tepercaya, terkuaklah fakta bahwa ikatan jiwa dan raga Candra telah longgar simpulannya, indra penglihat makhluk astralnya telah terbuka sepenuhnya, dan juga ia selalu menyerap semua serangan supernatural yang dilemparkan kepada segenap keluarga Agnibrata. Hal itu menyebabkannya seringkali jatuh sakit dan juga rawan dirasuki oleh makhluk-makhluk astral. Orang pintar itu juga menambahkan bahwa Baskara diciptakan sebagai tameng dari Candra, jangan sampai mereka jauh jika tak ingin Candra dalam bahaya.Mendengar hal itu, kedua orang tua Candra dan Baskara langsung melakukan segala cara untuk menyelamatkan kedua anak mereka. Mulai dari memberikan ramuan hingga menjalankan ritual-ritual khusus, terutama pada Candra.Baskara awalnya tak suka dengan cara kedua orang tuanya "mengistimewakan" Candra, ditambah dengan Candra yang apa-apa selalu bergantung padanya dan tak mau jauh darinya membuatnya kesal dan membenci Candra. Hingga suatu hari, kejadian nahas hampir saja merenggut nyawa Candra tepat di depan mata Baskara.Sejak saat itu, Baskara mulai mencoba membuka hatinya untuk sang adik kembar dan melindunginya, meski seringkali ia terlihat kesal dan sinis ketimbang peduli, tetapi di dalam hatinya, ia hanya ingin hidup bahagia bersama kedua orang tuanya dan juga Candra.

SANG SURYA DI LANGIT BIRU

"Sejatinya, kita hanyalah pemeran yang mendamba jadi penulis skripβ€”layaknya manusia yang mendamba 'tuk jadi Tuhan."


NAMABaskara Agnibrata
NAMA PANGGILANBaskara, Babas
TANGGAL LAHIR16 Mei 1997
GOLONGAN DARAHAB
HAL YANG DISUKAKucing, soda, ruangan redup
HAL YANG TIDAK DISUKALipan

KEPRIBADIAN:

Seorang pemuda yang berjiwa bebas, ringan tangan, dan senantiasa tampakkan senyum riang guna tutupi beban di pundak. Namun, sedikit sinis ketika berhadapan dengan saudara kembarnya. Kesinisan itu didasari akan rasa khawatir yang mati-matian ia sangkal."Ojo adoh-adoh tekan aku, Candra. Mbok yo eling aku sing repot," (Jangan jauh-jauh dari aku, Candra. Ingatlah kalau nanti aku yang repot) yang tanpa sadar selalu ia ucapkan dengan sorot khawatir di kedua manik.

TRIVIA:

  • Adalah seorang pembelajar yang cepat.

  • Kebiasaan buruk: minum soda minimal sehari sekali.

  • Tidak suka berada di ruangan yang terlalu terang karena akan menyakiti matanya.

  • Kalau makan, harus pakai sambal atau cabai.

  • Punya dua sukulen di kamarnya, katanya agar kamarnya terlihat segar sedikit.

REMBULAN DALAM SANGKAR

"Namaku Candra, dan aku adalah agroikos Semesta. Meski begitu, izinkan rembulan dalam sangkar ini untuk punya akhir yang baik untuk dibawa serta jadi kenangan menuju dekapan Mair."


NAMACandra Agnibrata
NAMA PANGGILANCandra
TANGGAL LAHIR16 Mei 1997
GOLONGAN DARAHAB
HAL YANG DISUKARuangan terang, bau dupa
HAL YANG TIDAK DISUKASendirian, kegelapan, Nyai Jenar dan abdi-abdinya

KEPRIBADIAN:

Seorang pemuda yang cukup tertutup soal dirinya sendiri, seringkali hanya berbicara jika ditanya, itupun dijawabnya dengan suara pelan dan sedikit terbata. Ia seringkali absen dari sekolah sebab mudah jatuh sakit, maka dari itu ia tak punya banyak teman bahkan sampai sekarang."Kutukan" yang bersarang dalam jiwa-raganya juga membuatnya sedikit menjaga jarak dengan banyak orang karena sampai sekarang, ia masih sering jatuh dalam perangkap makhluk astral yang menyamar jadi manusia untuk mengambil alih tubuhnya. Meski begitu, ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan bertemu dan berteman dengan orang baru karena ... sesimpel ia ingin punya teman selain Baskara.

TRIVIA:

  • Lebih sering berbicara menggunakan bahasa Jawa (terutama krama inggil) ketimbang bahasa Indonesia meskipun ia fasih menggunakan keduanya; ini merupakan petuah dari sang nenek untuk menghormati setiap makhluk yang berbicara dengannya karena seringkali tampilan makhluk astral tak ada bedanya dengan manusia biasa.

  • Tidak bisa tidur dalam keadaan ruangan gelap sebab fungsi indranya akan langsung naik tajam, termasuk indranya untuk mendeteksi keberadaan makhluk astral.

  • Berpikir bahwa ia cukup pandai menyembunyikan fakta ia bisa melihat makhluk astral dan "bentuk jiwa" seseorang, tetapi tak jarang tatapan matanya yang lebih sering fokus ke balik pundak orang lain (yang merupakan tempat "bentuk jiwa" seseorang termanifestasi) ketimbang muka membuatnya dicap ganjil.

  • Tidak bisa makan makanan yang telalu pedas, tapi punya toleransi pahit yang cukup tinggi karena seringkali dicekoki jamu dan ramuan juga kelopak mawar dan melati oleh sang ibu sejak kecil.

  • Mengoleksi dupa berbagai aroma. Alasannya karena ia merasa lebih tenang jika ada bau dupa di kamarnya.